Selasa, 04 Maret 2008

BERITA RADAR JEMBER

Senin, 03 Mar 2008
Para Wakil Rakyat yang Mempromosikan Diri Lewat Internet

Djufriyadi Rajin Menulis, Rendra Rajin Memuat Kliping BeritaInternet telah mendarah daging di kalangan intelektual. Tak terkecuali bagi wakil rakyat di DPRD Jember. Dua politisi muda Jember, rajin menuangkan gagasannya di internet melalui situs blog pribadi.

HARI SETIAWAN, Jember---

JIKA Anda hobi berselancar di internet atau menulis di blog, sesekali bukalah dua situs blog ini. Pertama, joefecik-jember-xzat.blogspot.com, dan kedua, rendrawirawan.blogspot.com. Mengapa Anda sesekali perlu mengunjungi kedua blog tersebut? Karena, dua blog tersebut milik wakil Anda di DPRD Jember. Yakni, M. Djufriyadi dan Rendra Wirawan, keduanya anggota komisi B DPRD Jember.

Blog Djufriyadi diberi judul Warna-Warna, Refleksi Sebuah Perjalanan. Meski sebagai anggota dewan, blog miliknya tidak ada logo PKB sama sekali, partai yang memberangkatkannya ke Bengawan Solo 86 (kantor DPRD, Red).

Dengan warna latar kombinasi hijau muda dan putih, blog yang dibikin sejak Desember 2007 itu cukup mencolok mata. Sepintas, tak ada kesan bahwa si empunya blog adalah politisi muda yang cukup beken di gedung parlemen.Namun, jika memperhatikan parade foto di lajur kanan, orang akan sedikit tahu bahwa pemilik blog itu seorang anggota dewan.

Di parade foto itu ada berbagai dokumentasi kegiatan komisi B, seperti saat di Pertamina, kunjungan ke Magetan, saat Tajemtra 2007, dan sebagainya.Blog tersebut lebih berkesan sebagai sebuah e-diary. Setelah memampang daftar link blog dan berbagai situs referensi, ada dua foto anaknya.

Di arsip yang ada, banyak ditemukan berbagai tulisan pribadi Djufriyadi mengenai banyak hal. Mulai masalah politik, pribadi, hingga berbagai hal yang terkait tugas sebagai anggota dewan.Ditanya soal hobinya menulis di blog, Djufriyadi hanya tertawa. "Ah, itu iseng-iseng saja. Tak ada maksud politis apa pun," katanya.

Politisi asal Kalisat itu baru bergaul dengan internet dua tahun lalu. "Sejak saya punya laptop," akunya. Laptop yang dimaksud adalah jatah fasilitas sebagai anggota dewan. Sebanyak 45 anggota dewan memang dibekali dengan laptop.Tentang asal-usul ketertarikannya dengan situs blog, Djufriyadi menyatakan, baru dimulai November 2007. Dia bermaksud mempublikasikan RAPBD 2008 yang saat itu mulai dibahas dewan. Karena, selama ini ada keluhan masyarakat, data APBD sulit diakses.Namun, koreksi gubernur terhadap APBD 2008 setelah disahkan 1 Desember 2007 lalu, baru turun beberapa pekan lalu. Sehingga, sampai sekarang data APBD 2008 belum terpampang di blog-nya.

Akhirnya blog tersebut banyak berisi pemikiran-pemikiran pribadi Djufriyadi tentang berbagai hal."Saya ingin menjadi Djufriyadi," jawabnya saat ditanya mengapa tak ada logo PKB di blog-nya, sebagai bentuk identifikasi bahwa dirinya adalah anggota dewan. Dengan tanpa memasang logo PKB, dia mengaku lebih bebas untuk menuangkan berbagai gagasannya tanpa dibingkai berbagai norma partai dan birokrasi.

Kehidupan, menurut dia, penuh warna. Begitu pula kehidupan dirinya sebagai pribadi dan sebagai anggota dewan. Dengan menulis di blog, banyak sisi kehidupan yang telah dilaluinya yang bisa didokumentasikan. "Sebab itu mengapa yang membuat judul blog saya Warna-Warna," paparnya.Karena itu, jangan heran jika Djufriyadi sangat betah duduk berjam-jam di warung internet (warnet). Selain memburu berbagai informasi, di warnet pula Djufriyadi biasa meng-up load berbagai konten blog-nya.

Berbeda dengan milik Djufriyadi, blog milik Rendra amat kental nuansa politis. Saat membuka beranda blog-nya, orang disuguhi logo PAN yang cukup besar dan fotonya yang tengah mengambil sikap hormat laiknya orang yang tengah upacara.

Nama blognya pun simpel, Rendra Wirawan, Berikan Aku Sepuluh Pemuda Progresif Revolusioner, Maka Akan Aku Ubah Dunia.Warna biru muda cukup menominasi sebagai warna kebesaran PAN. Konten blog milik legislator termuda itu lebih sederhana karena hanya berisi kliping-kliping berita tentang keparlemenan, khususnya yang memuat pernyataan dirinya. Bahkan, ada fitur survei online tentang kinerja legislator PAN di blog Rendra.

Sayang, Rendra tampaknya lama tidak meng-up date blog-nya. Arsip terbaru menunjukkan data 5 November 2007. Meski demikian, Rendra lebih dulu mempromosikan dirinya melalui internet, yakni sejak Januari 2007. "Saya belajar dari istri," akunya soal kemampuan dirinya membuat blog.

Dengan memiliki blog, Rendra mengaku bisa menuangkan berbagai gagasannya tentang berbagai hal, khususnya tugasnya di komisi B. "Blog itu juga sebagai media informasi saya sebagai wakil rakyat sekaligus sebagai publikasi berbagai kegiatan saya di dewan," katanya.Karena itu,

Rendra mengaku siap menerima masukan dari siapa pun yang masuk melalui blog-nya. Lebih dari itu, blog itu juga sebagai tempat pengumuman bahwa Rendra kini tak bujang lagi. "Makanya saya pasang foto saya dan istri di blog," sambungnya seraya ngakak. (*)

RASA MALU PADA NELAYAN PUGER...

Terkadang Antisipasi dari peristiwa yang mungkin saja terjadi, menuntut kita harus lebih mampu membaca situasi. Apakah situasi itu berkenaan dengan prilaku sosial masyarakat, maupun situasi alam. Kepekaan itu, memang menuntut siapapun untuk lebih jeli melihat keluar, dari jendela normal yang telah terbiasa menjadi rutinitas sikap, keputusan bahkan aturan.

Situasi sosial dan gejala perubahan alam, jauh lebih pesat meninggalkan teoritik kesiapan rencana yang telah terlanjur kita buat. Hal ini terjadi ketika konsentrasi pikiran kita terjebak pada aturan program. Padahal seringkali berbagai aturan program belum mampu menjawab akan persoalan riil diluar jendela kita.

Peristiwa yang saat ini dialami nelayan puger, adalah contoh kasus ketidak mampuan berbagai program untuk menjawab fakta sebenarnya dimasyarakat. Sudah 3 bulan nelayan puger tidak bisa melaut, selama itu pula tidak ada serupiahpun yang masuk kantong. Artinya selama 3 bulan nelayan puger menghabiskan seluruh sisa tabungan. Ironisnya lagi pegadaian yang biasa menjadi alternatif sementara pada masa paceklik, tidak lagi mampu melayani kebutuhan gadai mereka.

3 bulan mahkluk begis bernama kelaparan, mulai mengintip gubuk mereka. Fantastisnya selama itu pula dinas perikanan dan kelautan kita “pura-pura” tidak tahu. Dan ketika ketidaktahuan itu kemudian menjebak sang pemilik dinas, pinternya program APBD, dijadikan tameng untuk berkelit dari tanggung jawab.

Pertanyaan kemanusiaan kita adalah, jika misalnya tidak ada satupun isi APBD yang mengantisipasi puger, apakah kemudian kita tega membiarkan diri kita terjebak dalam belenggu APBD ! Bukankah pembuat APBD itu adalah orang – orang pinter. Orang – orang pilihan yang dianggap mampu menjawab persoalan sekian juta masyarakat jember !. jika misalnya APBD yang dibuat oleh orang – orang pinter itu, tidak lagi menjamin lenyapnya mahkluk kelaparan, lalu di mana roh sebenarnya dari APBD kita itu !. Padahal angka – angka yang muncul dalam APBD adalah angka – angka yang berasal dari keringat masyarakat.

Ok !. Mari kita berasumsi baik, katakan misalnya jawaban kepala dinas itu benar, tidak ada angka dalam APBD untuk mengatasi persoalan nelayan puger. Walau sebenarnya persoalan itu terjadi hampir tiap tahun. 2006 ketika ombak naik (gejala alam ?), nelayan puger juga tidak melaut. Waktu itu pedagaian masih menoleh mereka. 2007 peristiwa itu terulang lagi dan pegadaian kembali menjadi juru selama dengan tentu imbalan yang layak. Jika dengan sungguh – sungguh kita meluangkan hati untuk menengok keluar, maka jelas terlihat bahwa sebenarnya peristiwa tidak melautnya nelayan puger karena ombak, terjadi hampir tiap tahun. Artinya mestinya pada APBD 2008, dinas perikanan dan kelautan memasukkan angka untuk mengantisipasi peristiwa tersebut. Toh, jika angka itu tidak terpakai akan kembali pada kasda.
Kok tega ya, kita biarkan orang menganggap kita pinter, karena APBD bagian dari keberadaani kita. Padahal APBD ternyata gak semuanya menjawab persoalan masyarakat. Kok bisa ya kita biarkan diri kita dianggap mewakili persoalan masyarakat se jember. Padahal peristiwa sekecil puger, lepas dari kepedulian kita.

Masih untung Bupati Jember mendengar nelayan puger dan memerintahkan stafnya untuk menyelesaikan itu. Semoga terwujud, dan rasa malu dianggap menjadi wakil terobati.
(refleksi hati)

Rabu, 27 Februari 2008

PERAN ITU.....APA YA.....

“Ah…. Masa’, sih…”
“Bener lho, ngapain aku bohong”
“Mas kan belum tahu aku, kok udah ngomong gitu”
“Tanya deh orang2, kamu cantik kok dan aku suka banget”
Perempuan berkaos biru dengan jean hitam itu, bersemu merah pipinya
“kita belum kenal lho mas, bisa gawat kalau muji2 gitu”
“Biar gak gawat kita seriusi aja ya…”
“Apanya….?”
“ya kita ini, jika kamu bersedia aku antar sampai rumah”
Percakapan dua “arus positif negatif” itu terjadi didepanku. Lepas isyak ketika aku terjebak kepenatan menunggu bus di terminal bus.

(**)

“Dak wis, pokoke hari ini gak boleh ngutang”
“Ala, Cuma nambah dikit aja, lusa aku bayar semua”
“Bayar….Bayar…..harus bayar…”
“Ya…ya…ya, kopinya dulu jangan ngamuk terus”
“Asal bayar”
“ya yuk, rokok satu bungkus ya”
Aku tersenyum, mendengar debat kecil ini. Sambil sesekali kunikmati kepulan asap rokok, diantara bau keringat yang cukup menyengat. Warung sederhana seperti ini, pimggir jalan dan dekat sawah, adalah tempat yang menyenangkat bagi masyarakat petani didesa.
“Kopinya wis tak buatkan yang enak, ini rokoknya. Pokoknya bayar ya..”
“Ya..ya.. yuk, gak usah sewot lah..”
“Gak sewot gimana, beras pada naik, minyak naik, tepung naik, apa-apa naik. Jualan dihutangi terus, habis modalku…”
“Gak apa-apa yuk, kan tiap malam kakang juga naik.. he..he..”
“Gundul kamu, wis tua gak mikirin itu…”
Seorang laki-laki paro baya, melirikku. Setelah mengepulkan asap rokoknya, ia bertanya padaku
“Anak muda, sampean kan tahu pemerintahan. Kenapa ini semuanya pada naik..?”
Semua mata tiba-tiba tertuja padaku. Perempuan pemilik warung menimpali
“Pemerintahnya itu ‘dak kenal kita-kita kali ya”
Sebatang rokok kunyalakan, kubiarkan mereka menebak-nebak jawaban. Hisapan rokok sengaja kukepulkan pelan-pelan. Entah harus pakai literature apa untuk menjawab pertanyaan mereka. Gak mungkin aku jawab karena pemerintah gagal swasembada beras, karena lahan pertanian kiat berubah fungsi, karena kebijakan fiscal, karena pengaruh harga minyak dunia, atau karena para menteri ekonomi kita dipusingkan oleh bayangan konglomerat berdasi pejabat. Apapun aku ya harus menjawab pertanyaan mereka
“Kalau dalam minggu ini, tiap malam kita khusus menangis pada Allah, Insya Allah kita akan mampu membeli barang yang naik itu…”
“Pertanyaan kami kenapa naik”
“Karena Allah, akan memberikan sampean-sampean kemampuan untuk membelinya”
“Duh…aduh…anak…ini…!!”

(**)

Sekitar jam 8 pada suatu pesta malam pernikahan, aku sedang menikmati juise apel. Ketika tanpa sengaja telingaku menangkap pembicaraan antara dua orang llaki-laki separo baya.
“Bapak sudah bicara…”
“Belum. Tapi apa yang saya bawa malam ini, paling tidak bisa menterjemahkan keinginanku”
“Saya juga belum. Saya agak grogi untuk memulai. Emangnya bapak bawa apa?”
“Kontak Mobil terbaru, sebagai hadiah perkawinan anaknya”
“Tujuan kita sama, saya bawa kunci rumah tipe 90”
“Wah.. kalau begitu besok pagi kita harus bersama-sama temui beliau”
“Saya dengar si Dadu sudah menemui beliau”
“Ala… kalau cuma dia, gampang untuk nyingkirkan”
“Gampang gimana…?, ia sudah mulai dekat”
“Kita sediakan amplop, seseorang dengan mudah akan menghilangkan berkasnya”
“Kalau begitu kita harus bergerak cepat, waktu kita tinggal 6 hari lagi”
“Kita akan melakukannya dengan rapi. Percayalah 6 hari lagi kita termasuk yang akan dilantik”.
6 hari kemudian aku membaca dikoran pelantikan pejabat. Salah satu orang yang percakapannya aku dengar dipesta pernikahan ikut dilantik.
6 bulan kemudian aku membacanya lagi dikoran salah satu orang yang percakapannya aku dengar dipesta pernikahan tapi yang tidak dilantik melaporkan temanya yang ikut dilantik jadi pejabat ke polisi. Kasus yang dilaporkan adalah dugaan penggelembungan anggaran proyek.

(**)

Dimana Kita ?. Menjadi apa kita ?. Bagian peran apa yang kita ambil pada proses berkebangsaan ini. Begitu berartikah peran kita ?. Apakah peran itu menjadi bagian terpenting dari proses perbaikan masyarakat. Atau kita justru terpinggirkan, peran kita dianggap tidak relevan. Peran yang coba kita lakoni dianggap duri bagi kepentingan komunitas tertentu, maka kemudian kita dianggap penyakit social, yang perannya harus dikerdilkan.

10 tahun sejak reformasi diteriakan dengan darah dan air mata, peran kemanusiaan belum menemukan judul yang pasti. Orde ini kemudian ternyata membuka ruang lebar bagi kita untuk mengaktualisasikan peran. Akibatnya sulit menemukan difinisi yang jelas tentang peran kemanusiaan.

Apapun, jauh lebih berarti berperan menjadi diri sendiri. Peran terbaik adalah menjadi baik bagi diri sendiri, mengartikan diri sendiri menjadi baik bagi sesama.
(sesaat sebelum perjalanan ke rumah)

Senin, 25 Februari 2008

CALON GUBENUR, NU DAN KYAI

Jika tidak ada perubahan Juli 2008, masyarakat jawa timur akan menghadapi pemilihan gubenur yang pertama kali di Jatim. Hari ini nuansa perebutan kekuasaan itu terasa sekali dan kembali jorgan "membela rakyat kecil" laris terdengar ditelinga kita.

Beberapa waktu yang lalu Pasangan Soekarwo (sekda jatim) dan Saifullah Yusuf (ketua GP. Ansor) di deklarasikan oleh koalisi Partai Demokrat dan PAN. Sedemikian pinter Demokrat mencuri kesempatan, ketika DPP PDIP ternyata merekomendasi Sucipto, maka Demokrat yang awalnya bukan "gadis cantik" bagi calon gubenur, menjelma menjadi primadona dan mau tidak mau Pak De Karwo harus memilihnya. PAN melihat itu sebagai tiket sempurna untuk merebut kekuasaan di jatim. Maka ditinggalkan PPP, kemudian menggandeng Demokrat dengan menyugukan Gus Ipul di posisi Wagub.

Bagaimana kans mereka ? Pak De berkumis ini harus memeras otak untuk mengembalikan "investasi" yang ia tanam pada Muskercabsus-Muskercabsus PDI.P. Jika minimal separo dari Investasi itu berbalik padanya, bukan tidak mungkin Soekarwo akan meninggalkan Sucipto. Apalagi misalnya sang Raja Mataram (Gus Ipul) selain optimal menggerakkan mesin Ansor, juga bisa mencuri pemilih PKB dan Nahdiyin.

Secara Teoritis Pasangan ini memang cukup mengakar. Pengalaman Soekarwo dalam Birokrasi dengan Jorgan APBD untuk rakyat, sisi lain kelihaian lobi Saifullah Yusuf serta kedekatannya dengan Kyai-Kyai berpengaruh dijawa timur. Jika misalnya semua itu diramu dengan manajement kampanye yang baik, tidak menutup kemungkinan pasangan ini yang akan memimpin Jawa Timur.

Persoalannya adalah terletak siapa yang kemudian menjadi pasangan Soenaryo (Wagub Jatim/Ketua Golkar Jatim). Misalnya kita berandai Ali Maschan Musa memilih menjadi CaWagub Soenaryo, setelah PKB menutup rapat kemungkian men CaGub kan beliau.
Soenaryo yang sudah cukup lama berInvestasi dalam persiapan pencalonannya tentu memiliki fanatisme massa, disamping mesin golkar yang bergerak dengan solid (tak terdengar ancaman Ridwan Hisyam). Sementara Cak Ali pada akar rumput NU lebih bisa diterima ketimbang Gus Ipul.

Bagaimana dengan PKB, yang 24 Feb 2008 kemarin memenuhi janjinya untuk mendeklarasikan Achmady (Bupati Mojokerto) sebagai calon Gubenur dari PKB ? Kita jadi ingat Pemilihan Gubenur 5 tahun lalu (masih DPRD), ketika arus dukungan, keinginan Kyai-Kyai lebih pada Imam Utomo, PKB (FKB) justru cendrung pada Jendral (purn) Khafi, alasannya seperti biasa keinginan Gus Dur. Kita tentu mencoba untuk tidak mengecilkan arti dan peran seseorang, walau sulit tertutupi bahwa Acmady adalah calon Gubenur yang paling tidak populer. Artinya bahwa perjuangan untuk memenangkan Achmady digantungkan pada 2 hal ; popularitas calon wakil gubenurnya dan tentu efektifitas PKB dalam menjalankan mesin partainya. Harus diingat di Jawa Timur Pengurus PKB disemua tingkatan lebih didominasi Anshor dan NU, 2 lembaga ini secara emosional lebih dekat dengan Gus ipul dan Cak Ali Maschan ketimbang Achmady.

Bagaimana dengan kecendrungan pemilih ?. Di Jawa khususnya Jawa Timur menurut Cliffort Geertz segmen masyarakat terbagi 3, Santri, Priyayi dan Abangan. Santri adalah komunitas yang menjadi murid agama di pesantren. pada umumnya santri berasal dari kampung-kampung di desa, ketika ia kembali kekampung masih tetap berpredikat santri. mereka mempunyai ikatan emosional yang tinggi dengan para Kyai nya. Pola dan tingkah lakunya lebih banyak mengadopsi Pola dan karakter Kyai nya. Priyayi adalah golongn elit di Pesantren, biasanya pemilik pesantren. pada perkembangan berikutnya tokoh masyarakat masuk dalam sebutan priyayi. Abangan adalah komunitas yang biasanya bertempat tinggal dikota-kota.
3 segmen masyarakat inilah yang sekarang menjadi perebutan bagi calon-calon gubenur. Dan NU yang memiliki persentase utuh pada segmen santri dan Kyai berada pada posisi tertinggi untuk direbutkan.

Teori kemenangan pada Pilkada biasanya terbagi antara lain; apabila calon berangkat dari partai besar maka mesin partai harus menyumbang 70 % suara, 30 % dari calon. bila calon berangkat dari partai kecil maka kebalikan dari hal diatas. Dari sini bisa kita simpulkan :
- Soekarwo + Saifullah Yusuf berkewajiban atas 70% suara, Demokrat dan PAN 30 % suara
- Soenarjo + Ali Maschan Musa (?) berkewajiban atas 30 % Suara. Golkar 70 % Suara.
- Achmady + (?) berkewajiban atas 30 % suara, PKB 70 % Suara
- Soecipto + Ridwan Hisyam (?) berkewajiban atas 30 % suara, PDI.P dan PPP (?) 70 % suara

Kalau Pasangan Calon Gubenur seperti diatas, sudah pasti persentase persentase suara yang akan direbut adalah kantong - kantong nahdiyin (santri, kyai, priyayi). Faktanya Mindset keluarga nahdiyin adalah ideological minded (berpikir ideologi). Para nahdiyin tidak lagi sempat berfikir apakah calon yang akan didukung tepat/baik. Mereka lebih pasra mutlak kepada segmen priyayi. Siapapun Calonnya yang penting sang Kyai mendukung mereka akan mendukung. itulah ideologi mereka, ideologi kyai.

Amma Ba'du, hampir dipastikan para kyai menjadi perebutan para calon. Hampir juga dipastikan semua calon merasa paling dekat dengan para kyai. Nah..! bila kemudian seperti itu, tidak salah jika ada ungkapan, bahwa event politik apapun Adalah juga event pergulatan para Kyai, semoga salah !